efek anchoring dalam ui

bagaimana opsi pertama menentukan nilai pilihan lainnya

efek anchoring dalam ui
I

Pernahkah teman-teman berniat berlangganan sebuah aplikasi, lalu dihadapkan pada tiga pilihan harga? Katakanlah ada Paket Dasar seharga 50 ribu, Paket Standar 150 ribu, dan Paket Sultan yang harganya menembus 800 ribu rupiah. Kita melihat layar itu, berpikir sejenak, lalu dengan mantap memilih Paket Standar. Dalam hati, kita merasa sangat rasional. Kita tidak mau yang terlalu murah karena fiturnya sedikit, tapi kita juga tidak mau membuang uang 800 ribu untuk fitur berlebihan. Kita merasa memegang kendali penuh atas keputusan itu. Namun, mari kita merenung sejenak. Benarkah murni kita yang memilih? Atau, jangan-jangan, tanpa kita sadari ada desainer antarmuka yang sedang tersenyum di balik layar karena kita baru saja berjalan tepat ke dalam perangkap yang mereka siapkan?

II

Untuk memahami ilusi kendali ini, kita perlu mundur sejenak ke tahun 1974. Dua psikolog legendaris, Amos Tversky dan Daniel Kahneman, melakukan sebuah eksperimen yang mengubah cara kita memandang otak manusia. Mereka membawa sebuah roda putar seperti di acara game show ke hadapan para relawan. Roda itu sudah diakali agar selalu berhenti di angka 10 atau 65. Setelah memutar roda dan melihat angka yang keluar, para relawan ditanya sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya: "Berapa persentase negara Afrika yang menjadi anggota PBB?" Logikanya, angka dari roda putar tidak seharusnya memengaruhi pengetahuan geografi seseorang, bukan? Tapi faktanya mengejutkan. Kelompok yang mendapat angka 10 di roda putar, rata-rata menebak angka 25 persen. Sementara kelompok yang mendapat angka 65, rata-rata menebak 45 persen. Angka acak dari roda putar tadi diam-diam menyusup ke dalam alam bawah sadar, menetapkan sebuah batas ukur, dan memengaruhi penilaian rasional mereka.

III

Sekarang, mari kita bawa mesin waktu kembali ke masa kini. Bayangkan roda putar eksperimen tadi adalah layar smartphone atau layar laptop yang kita tatap setiap hari. Kita hidup di era di mana setiap piksel layar didesain dengan perhitungan psikologis yang sangat matang. Para desainer User Interface (UI) sangat memahami bahwa otak manusia, secerdas apa pun kita, benci bekerja terlalu keras. Otak kita selalu mencari jalan pintas atau heuristics untuk membuat keputusan dengan cepat. Nah, di sinilah misterinya bermula. Jika otak kita selalu mencari jalan pintas, lalu siapa yang membangun jalan pintas tersebut di dunia digital? Bagaimana jika angka pertama yang kita lihat di sebuah layar sebenarnya bukanlah sebuah penawaran, melainkan sebuah sauh yang dilemparkan untuk mengikat cara berpikir kita?

IV

Inilah yang dalam ilmu psikologi kognitif disebut sebagai Anchoring Effect atau efek penjangkaran. Otak manusia tidak memiliki alat ukur bawaan untuk menilai harga atau nilai absolut dari sesuatu. Untuk mengetahui apakah sesuatu itu murah atau mahal, otak kita secara otomatis mencari referensi pembanding. Angka pertama yang kita lihat itulah yang menjadi anchor atau jangkar. Dalam desain UI, jangkar ini sering diselipkan dengan sangat halus. Ingat Paket Sultan seharga 800 ribu di awal cerita kita? Desainer UI sering meletakkannya di urutan pertama (paling kiri) atau membuatnya paling mencolok dengan warna berbeda. Harga 800 ribu itu sebenarnya tidak didesain untuk dibeli. Ia diletakkan di sana murni sebagai jangkar. Saat otak kita melihat angka 800 ribu, angka itu tertanam sebagai standar harga aplikasi tersebut. Begitu mata kita bergeser ke Paket Standar seharga 150 ribu, tiba-tiba harga itu terlihat sangat masuk akal, bahkan terasa seperti penawaran yang menguntungkan. Jangkar pertama telah berhasil merombak persepsi nilai di kepala kita. Hal yang sama terjadi saat kita melihat "harga coret" di aplikasi belanja. Harga lama yang dicoret adalah jangkar, membuat harga diskon terasa seperti kemenangan besar bagi kita.

V

Mempelajari bias kognitif ini bukan berarti kita harus curiga berlebihan pada setiap aplikasi yang kita buka. Kita manusia, dan wajar jika otak kita mendambakan efisiensi energi lewat jalan pintas mental. Namun, menyadari keberadaan anchoring effect memberi kita kekuatan baru: literasi kognitif. Kita jadi lebih empati pada cara kerja pikiran kita sendiri. Mulai sekarang, saat teman-teman melihat layar yang menyodorkan pilihan-pilihan, cobalah berhenti selama tiga detik. Tarik napas sejenak. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya memilih opsi ini karena saya benar-benar butuh nilainya, atau karena saya sedang membandingkannya dengan jangkar yang ditanam oleh orang lain?" Karena pada akhirnya, kebebasan memilih yang sesungguhnya baru terjadi ketika kita menyadari bahwa pilihan pertama kita, belum tentu sepenuhnya milik kita.